Kolaborasi Studi Naskah: Tim Perpustakaan UIN KHAS Jember Silaturahim ke Pesantren Al-Hidayah, Karangharjo, Silo, Jember

Rabu (28/5/2025), tim dari Perpustakaan UIN KHAS Jember berkunjung ke Pesantren Al-Hidayah Karangharjo, Silo, Jember. Tim yang dipimpin Hafidz selaku kepala perpustakaan UIN KHAS dan sejumlah pustakawan-Aisyah Nurhayati,Mufidatul Husna, Tutik Sulistyowati, Anhari dan Supardi-itu bermaksud melihat koleksi manuskrip dan dokumen-dokumen penting warisan Kiai Haji Imam Nawawi Kafrawi, pendiri pesantren, sekaligus melihat secara langsung proses digitalisasi naskah. Tiba di pesantren yang berdiri sejak tahun 1937 ini, tim perpustakaan ditemui Gus Rozi, Gus Dilif dan salah satu santri senior, Ilham Adli.
Setelah sebelumnya dilatih teknik digitalisasi naskah oleh Moh. Hisyam dan Nukman Fauzi dari ngenger.co, menggunakan kamera DLSR dan tripod sederhana, serta dilengkapi satu perangkat komputer, sejumlah santri Al-Hidayah dalam beberapa hari ini berusaha menyelamatkan sejumlah naskah dan dokumen penting warisan sang kiai dalam format digital. Digitalisasi ini penting guna memperpanjang usia naskah yang rentan rusak oleh perubahan cuaca ataupun hama. Dan, memang,ditemukan beberapa dokumen yang sebagian berlubang akibat serangan hama kertas, sehingga sebagian teks tak terbaca. Selain upaya pelestarian, digitalisasi membuka ruang bagi penelitian naskah, baik dari perspektif filologi maupun lintas bidang ilmu, terutama ilmu sejarah.
Koleksi naskah warisan Kiai Kafrawi cukup beragam, dari naskah Al-Quran, dokumen surat-menyurat, catatan-catatan pribadi, syi'ir-syi'ir dan lain-lain. Yang menarik, Kiai Kafrawi juga memiliki koleksi Injil Barnabas dalam aksara pegon. Sejauh ini, aksara pegon lazimnya digunakan dalam tradisi literasi pesantren. Ada pula catatan perjalanan haji Kiai Kafrawi menggunakan kapal laut pada awal tahun 70-an yang ditulis dalam bentuk syi'ir. Catatan perjalanan haji ini menambah panjang deretan kisah perjalanan haji Muslim Nusantara sebagaimana dikumpulkan Henri Chambert-Loir dalam bukunya, Naik Haji Di Masa Silam: Kisah-kisah Orang Indonesia Naik Haji 1482-1964. Dari catatan perjalanan haji Kiai Kafrawi ini, misalnya, terbuka ruang bagi penelitian dari aspek kesejarahan maupun kesusasteraan.
Dalam kesempatan itu, tim perpustakaan menyampaikan apresiasinya terkait upaya pelestarian naskah oleh santri-santri Al-Hidayah, mengingat sejauh ini naskah-naskah pesantren cenderung menjadi ruang eksklusif para peneliti naskah dari luar pesantren. Tim perpustakaan berharap kegiatan ini tidak berhenti di digitalisasi naskah, tetapi berlanjut ke riset naskah secara kolaboratif dengan pihak perpustakaan UIN KHAS untuk melahirkan karya-karya akademis berbasis naskah. Karena itu, diperlukan pendampingan metodologi riset berbasis dokumen, juga riset lapangan, termasukkemungkinan penyediaan literatur pendukung. Dengan begitu, santri-santri pesantren akan menjadi subjek kajian, bukan sekadar objek, sehingga hasil-hasil pengkajian naskah tidak tercerabut dari habitatnya. Upaya rekonstruksi sejarah justru menjadi hak istimewa para santri, karena mereka hidup dan tinggal di dalamnya, sehingga memiliki akses yang kuat terhadap data-data sejarah pesantren, bahkan lingkungan masyarakat sekitar pesantren. Dari sini sejarah sosial intelektual pesantren bisa ditulis, dan pada gilirannya menyumbang terhadap, misalnya, kajian sejarah lokal.
Menutup kegiatan, Hafidz dan Supardi mencoba mendendangkan syi'ir perjalanan haji yang ditulis dalam bahasa Madura dengan aksara pegon. Hanya sebait dua bait,selebihnya ngelantur. Syi'ir perjalanan haji ini sebenarnya pernah didendangkan sendiri oleh Kiai Kafrawi, bahkan direkam di kaset pita. Namun, keberadaan kaset itu kini tidak diketahui, sama halnya dengan keberadaan salah satu koleksi buku milik Kiai Kafrawi: Madilog, karya sang revolusioner Tan Malaka.
(Admin)
Tag :